navigasi

Thursday, March 16, 2023

Tugas Desain dan Informasi Geospasial - One Map Policy dan Katalog Fitur Dataset

 

1.      One Map Policy (OMP)

Kebijakan satu peta atau “One Map Policy (OMP) berawal di tahun 2010 ketika Unit Kerja Presiden Bidang Pengawasan dan Pengendalian Pembangunan (UKP4) menunjukkan kepada Presiden Susilo Bambang Yudhoyono peta tutupan hutan dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Departemen Kehutanan yang berbeda dimana al tersebut yang mendorong Presiden SBY memerintahkan penyusunan satu peta. Selain itu karena Informasi Geospasial Tematik (IGT) yang dibangun tidak merujuk pada satu sumber rujukan Peta Dasar (Peta Rupabumi). Bisa dipastikan selama Informasi Geospasial Tematik tidak merujuk pada Peta Dasar yang dibangun oleh instansi yang berkompeten dan berkewenangan dalam hal ini Badan Informasi Geospasial (BIG) maka Informasi Geospasial Tematik yang dibangun tersebut akan menimbulkan kesimpangsiuran.

One Map Policy adalah amanat Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2011 tentang Informasi Geospasial (IG).  Informasi Geospasial diselenggarakan berdasarkan asas kepastian hukum, keterpaduan, keterbukaan, kemutakhiran, keakuratan, kemanfaatan, dan demokratis. Undang-Undang ini bertujuan untuk mewujudkan penyelenggaraan Informasi Geospasial yang berdaya guna dan berhasil guna melalui kerja sama, koordinasi, integrasi, sinkronisasi, dan mendorong penggunaan Informasi Geospasial dalam penyelenggaraan pemerintahan dan dalam berbagai aspek kehidupan masyarakat. BIG sebagai penyelenggara Informasi Geospasial Dasar yaitu Jaring Kontrol Geodesi dan Peta Dasar yang menjadi acuan untuk menjamin keterpaduan informasi nasional. BIG mengintegrasikan berbagai peta yang dimiliki sejumlah instansi pemerintah ke dalam satu peta dasar (One Map).

Konsep One Map Policy adalah untuk menyatukan seluruh informasi peta yang diproduksi oleh berbagai sektor ke dalam satu peta secara integratif , dengan demikian tidak terdapat perbedaan dan tumpang tindih informasi dalam peta yang mana ditetapkan oleh satu lembaga dalam hal ini BIG untuk ditetapkan sebagai one reference, one standard, one database, dan one geoportal.

Informasi geospasial (IG) yang akurat dan mutahir akan membantu pemerintah dalam membuat kebijakan. Menurut Ketut Wikantika, Guru Besar Program Studi Teknik Geodesi dan Geomatika Institut Teknologi Bandung (ITB), dengan memanfaatkan informasi geospasial, penyelenggaraan pemerintah menjadi lebih efektif, termasuk dalam tata kelola asset daerah dan desa.

Kepala BIG, Dr. Priyadi Kardono, M.Sc. mengatakan bahwa "One Map Policy" diyakini akan dapat mendukung kebutuhan penyelenggaraan pemerintahan yang efektif dan efisien termasuk di dalamnya pengawasan dan pengelolaan lingkungan. Deforestasi yang tidak terkendali salah satunya adalah karena tidak tersedianya peta atau informasi geospasial yang terintegrasi pada setiap kementerian dan lembaga, sehingga terjadi tumpang tindih dalam pemberian ijin usaha. Permasalahan ini sangat terkait dengan pemetaan tataruang daerah. Keterbatasan ketersediaan informasi geospasial dan sumberdaya manusia yang memahami informasi geospasial dan analisis keruangan menjadi salah satu penyebab utama dari rendahnya kualitas penataan ruang.

Tugas Desain dan Manajemen Informasi Geospasial - UML (Unified Modeling Language) dan Mengapa UML berbasis Object Oriented


  

UML (Unified Modeling Language) adalah sebuah bahasa yang berdasarkan grafik/gambar untuk memvisualisasi, menspesifikasikan, membangun, dan pendokumentasian dari sebuah sistem pengembangan software berbasis OO (Object-Oriented).

Mengapa UML berbasis Object Oriented?

Alasan mengapa saat ini pendekatan dalam pengembangan software dengan object-oriented, pertama adalah scalability dimana obyek lebih mudah dipakai untuk menggambarkan sistem yang besar dan komplek. Kedua dynamic modeling, adalah dapat dipakai untuk permodelan sistem dinamis dan real time.

Tugas Desain dan Manajemen Informasi Geospasial - Usabilitas

 

1.     Arti Kata Usabilitas

Tingkat kebergunaan suatu produk bagi pengguna

2.     Komponen Pengukuran Usabilitas Peta

a.      Efektivitas : mengacu pada tingkat ketepatan (seberapa tepat) kebutuhan pengguna menyelesaikan tugas dapat terfasilitasi melalui informasi yang tersaji dan interaksi yang ditawarkan pada tampilan antarmuka pengguna (misalnya simbol dan tombol pada peta interaktif) dan muka peta (misalnya simbol yang ditunjukkan pada lembar peta manual)

b.     Efisiensi : mengacu pada tingkat ketepatan (seberapa cepat) aktivitas atau tugas pengguna dapat didukung secara penuh oleh peta melalui tampilan antarmuka pengguna

c.      Kepuasan : mengacu pada tingkat kepuasan pengguna terhadap produk peta yang disediakan

3.     Cara Mengukur Usabilitas Peta

Peta dengan usabilitas baik berarti mampu membantu penguna peta untuk mendapatkan informasi yang tepat, cepat dan memuaskan.

a.    Pengguna mengetahui informasi dalam peta dengan tepat sesuai kehendak.

b.   Pengguna tertarik untuk menggunakan peta tersebut

c.    Tampilan peta dan representasi jalan, nama jalan, dan informasi lain mudah dipahami

d.   Tampilan nama tempat, obyek penting di dalam peta mudah ditemukan.

4.     Contoh Produk Peta dengan Usabilitas Tinggi

Sebuah peta navigasi dengan usabilitas baik berarti memiliki nilai usabilitas tinggi yang berarti saat dilakukan tes, hasil efektivitas, efisiensi dan kepuasan peserta tes terhadap produk adalah tinggi.

a.      Peta Navigasi Mobil (GPS Car Navigation)

b.     Peta pada Google Maps

Tugas Desain dan Manajemen Informasi Geospasial - Cara Menangkap Kebutuhan Pengguna - Requirements



 Cara menangkap kebutuhan pengguna bisa dilakukan dengan 5 hal, yaitu :

1.     Users Profiling (membuat profil pengguna)

2.     Stakeholder Interview

3.     Questionnaire

4.     Usecase

5.     Scenario of Use

Wednesday, March 15, 2023

Tugas Desain dan Manajemen Informasi Geospasial - ROI ASSESMENT PERUSAAHAN JASA PEMBUATAN SIMPUL JARINGAN

 

Report History

Project Name:      ROI Assesment

Focus Area:          Infrastruktur Data Spasial        

Product/Process: GIS  

Prepared By

Document Owner(s)

Project/Organization Role

Ridwan Ageng Ashari

Magister Teknik Geomatika

Universitas Gadjah Mada

 

Report Version Control

Version

Date

Author

Change Description

A.1

03/01/2016

Ridwan Ageng Ashari

 

 

Glossary of Terms

Free Cash Flow: Jumlah maksimum uang yang dibutuhkan untuk membayar program atau kerja

Geographic Information System (GIS): Metodologi dan Teknologi pemecahan masalah geografis.

Internal Rate of Return (IRR): Persentase yang diperoleh dari investasi. Sebagai perbandingan, rate of return saat ini dari uang investasi di bank 3-5%.

Net Present Value (NPV): Total nilai dolar dimana program akan menghasilkan lebih dari priode penilaian (5 tahun).

Return on Investment (ROI): Persentase yang didapat dibawah atau diatas investasi (Net Benefits / Total Costs) selama periode penilaian (5 tahun).

Payback Period: Jumlah tahun sebelum investasi berhasil dibayar kembali dari keuntungan yang didapat.

 

Executive Summary

Laporan ini dibuat langsung oleh Presiden Direktur Perusahaan Simpul Jaringan, Ridwan Ageng Ashari, untuk menjabarkan aspek-aspek kerja yang penting dalam peningkatan nilai bisnis pada perusahaan. Program ini didesain untuk mengetahui berbagai tantangan dan peluang yang menjadi perhatian utama. Secara umum, manfaat dan keuntungan dalam perusahaan Jasa Pembuatan Simpul Jaringan antara lain :

  • Membantu mempercepat pembangunan simpul jaringan di kementerian atau lembaga dan pemerintah daerah dengan pengelolaan yang professional
  • Mengoptimalkan hasil pembangunan simpul jaringan dengan sumber daya manusia yang handal di bidangnya
  • Amanat dari Perpres No.27 Tahun 2014 tentang Jaringan Informasi Geospasial Nasional yaitu untuk menyelenggarakan pengelolaan DG dan IG secara bersama, terukur, tertib, terukur, terintegrasi, dan berkesinambungan serta berdayaguna dapat diwujudkan